Pati Singkong Dicampur APP, BRIN dan UPR Uji Teknologi Baru Pemadaman Karhutla
PALANGKA RAYA, INFOBORNE– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Palangka Raya (UPR) menguji formula pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbahan campuran pati singkong dan Ammonium Polyphosphate (APP). Inovasi ini dikembangkan sebagai alternatif teknologi untuk mendukung pemadaman kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut.
Uji coba tersebut menjadi salah satu agenda kunjungan kerja Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., ke Balai Pengendali Kebakaran Wilayah Kalimantan di Palangka Raya, Kamis (5/11/2026). Kegiatan itu turut dihadiri Rektor UPR, Prof. Bhayu Rhama, S.T., MBA., Ph.D.
Formula berbasis pati singkong dan APP menjadi salah satu inovasi yang diuji untuk mendukung penanganan kebakaran di wilayah rawan, termasuk lahan gambut dan taman nasional. Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat menghasilkan alternatif bahan pemadam yang sesuai dengan karakteristik ekosistem tersebut.
Namun, efektivitas formula dalam memadamkan api dan menghambat penyebarannya masih perlu dibuktikan melalui serangkaian pengujian. Aspek keamanan terhadap lingkungan juga menjadi bagian penting yang harus dievaluasi sebelum teknologi tersebut diterapkan secara lebih luas.
Selain pengujian formula pemadam, rombongan BRIN dan UPR juga menyaksikan uji coba Dumakron, yakni bahan semai awan hujan berukuran mikro sekitar 2–5 mikron. Bahan tersebut disebarkan menggunakan drone untuk mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Rangkaian kunjungan Kepala BRIN juga mencakup Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) UPR. Kunjungan ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi antara periset BRIN, akademisi, serta tim teknis yang terlibat dalam penanganan karhutla di Kalimantan.
Rektor UPR, Prof. Bhayu Rhama, menegaskan kesiapan universitas untuk terlibat dalam pengembangan riset lanjutan. UPR siap menerjunkan tim ahli dan memfasilitasi kegiatan penelitian melalui PPIIG.
“Kolaborasi antara lembaga riset dan perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan inovasi serta peta mitigasi berbasis data yang lebih akurat,” terang Bhayu.
Dalam kunjungan tersebut, juga dibahas komitmen penyusunan program kerja bersama yang melibatkan Manggala Agni, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta unsur pemerintah daerah. Kerja sama lintas lembaga ini diharapkan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Pengembangan formula pemadam berbahan pati singkong dan APP, pemanfaatan drone, hingga dukungan teknologi modifikasi cuaca menjadi bagian dari upaya membangun sistem penanggulangan karhutla yang lebih terintegrasi.
Melalui kolaborasi riset tersebut, penanganan karhutla di Kalimantan diharapkan tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika kebakaran terjadi. Pendekatan pencegahan dan mitigasi berbasis ilmu pengetahuan juga perlu diperkuat untuk mengurangi risiko kebakaran serta melindungi ekosistem gambut dari ancaman kerusakan dan kabut asap.