Uskup Aloysius Pertahankan Sekolah Katolik Meski Tak Menguntungkan

52

PALANGKA RAYA – Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka tetap mempertahankan sejumlah lembaga pendidikan Katolik di Kalimantan Tengah meski sebagian besar dinilai tidak menguntungkan secara finansial.

Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari Guru Besar Universitas Palangka Raya, Petrus Poerwadi, dalam Talkshow Kreatif bertajuk “Dari Benih Menjadi Pohon: Menghidupkan Memori di Masa Lampau, Mensyukuri Masa Sekarang, dan Menatap Masa Depan Penuh Harapan” di Aula Magna, Jumat sore (8/5/2026).

Menurut Petrus, selama 25 tahun memimpin Keuskupan Palangka Raya, Uskup Aloysius menjadikan pendidikan sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Selama 25 tahun memimpin Keuskupan Palangka Raya, Uskup Aloysius selalu menempatkan pendidikan sebagai jalan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia,” ujarnya.

Ia mengatakan berbagai sekolah dan yayasan pendidikan di bawah Keuskupan Palangka Raya tetap dipertahankan meski kondisi keuangannya terbatas.

Bahkan, sejumlah lembaga pendidikan disebut hanya mampu bertahan dalam kondisi pas-pasan dan tidak memberikan keuntungan ekonomi.

“Berbagai yayasan pendidikan di bawah Keuskupan Palangka Raya ini di seluruh Kalteng sebenarnya tidak ada yang menguntungkan. Kalaupun ada itu hanya pas-pasan, bahkan ada yang tidak menguntungkan sama sekali,” katanya.

Menurut Petrus, banyak pihak sempat mempertanyakan keputusan mempertahankan lembaga pendidikan yang dinilai berat dari sisi operasional.

Namun, Uskup Aloysius memiliki pandangan bahwa pendidikan tidak bisa hanya diukur dari keuntungan materi.

Ia mencontohkan Seminari Raja Damai dan STIPAS Palangka Raya yang tetap berjalan meski menghadapi keterbatasan finansial.

“Walaupun Seminari Raja Damai itu tidak menguntungkan, STIPAS itu pas-pasan, kalau orientasinya finansial sudah ditutup semua itu. Walaupun kami sudah sarankan untuk ditutup saja, Bapa Uskup tidak pernah setuju karena beliau punya pandangan lain,” tuturnya.

Petrus menegaskan Uskup Aloysius percaya pendidikan merupakan sarana penting untuk membebaskan masyarakat dari keterbelakangan, termasuk di wilayah pelosok Kalimantan Tengah.

Karena itu, sejumlah sekolah di daerah terpencil tetap dipertahankan demi memberikan akses pendidikan kepada masyarakat.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.