Prof. Bhayu Rhama Pilih Fokus Berkarya di Tengah Dinamika Pilrek UPR

PALANGKA RAYA – Di tengah menghangatnya dinamika Pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030, Calon Rektor UPR Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D. memilih tidak larut dalam berbagai isu dan narasi yang berkembang. Ia lebih memilih tetap fokus menjalankan tugas akademik, mengelola Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), serta menyampaikan gagasan mengenai masa depan UPR.

Sikap tersebut terlihat ketika berbagai isu yang menyasar dirinya beredar di media sosial maupun grup percakapan. Alih-alih memberikan tanggapan yang bernada menyerang, Prof. Bhayu justru menegaskan komitmennya untuk menjaga suasana akademik tetap kondusif.

“Ketika banyak energi habis untuk saling menyerang, saya memilih menggunakan energi itu untuk berpikir bagaimana UPR bisa lebih maju dan lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Bhayu.

Menurutnya, proses pemilihan rektor merupakan bagian dari demokrasi akademik yang seharusnya diisi dengan pertukaran gagasan, visi, dan program kerja. Karena itu, ia menilai seluruh kandidat memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga marwah universitas selama proses pemilihan berlangsung.

Prof. Bhayu mengatakan, kampus merupakan rumah bersama bagi seluruh civitas akademika. Apa pun hasil pemilihan nanti, seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan pimpinan universitas akan tetap bekerja bersama membangun UPR.

“Saya tidak ingin pemilihan ini meninggalkan perpecahan. Setelah proses ini selesai, kita semua tetap keluarga besar UPR. Kita tetap bertemu di kampus yang sama, bekerja untuk tujuan yang sama,” katanya.

Ia menilai tantangan yang dihadapi UPR saat ini jauh lebih penting dibandingkan polemik yang berkembang. Peningkatan mutu pendidikan, penguatan riset, inovasi, internasionalisasi, serta peningkatan daya saing lulusan membutuhkan sinergi seluruh elemen kampus.

Di tengah derasnya arus informasi digital, Prof. Bhayu juga meyakini bahwa rekam jejak dan hasil kerja akan menjadi tolok ukur utama dalam menilai kapasitas seorang pemimpin. Karena itu, ia memilih tetap menunjukkan komitmennya melalui karya dan pengabdian.

Sikap tersebut, menurutnya, merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai akademik yang menjunjung etika, rasionalitas, dan dialog. Ia berharap seluruh proses pemilihan dapat berlangsung dalam suasana yang damai dan saling menghormati.

“Saya berharap proses ini berjalan damai, sejuk, dan penuh penghormatan satu sama lain. Siapa pun yang nantinya terpilih, tujuan kita tetap sama, yaitu menjadikan UPR semakin unggul dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi Kalimantan Tengah dan Indonesia,” tuturnya.

Bagi Prof. Bhayu, kontestasi kepemimpinan bukan sekadar tentang memenangkan sebuah pemilihan, melainkan kesempatan menghadirkan gagasan terbaik bagi kemajuan universitas. Karena itu, ia memilih tetap bekerja, menjaga persaudaraan, dan mengedepankan visi pembangunan UPR daripada terlibat dalam polemik yang berpotensi memecah kebersamaan civitas akademika.

Comments (0)
Add Comment