PALANGKA RAYA, INFOBORNEO – Calon Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D., menilai aspirasi mahasiswa yang dirumuskan dalam tujuh agenda prioritas merupakan bagian penting dalam membangun UPR yang lebih baik pada periode 2026–2031.
Prof Bhayu menyampaikan pandangan tersebut usai mengikuti Dialog Terbuka Calon Rektor UPR yang digelar Aliansi BEM Fakultas se-UPR pada 6 Agustus 2026. Dalam kegiatan itu, tiga calon rektor hadir untuk mendengarkan langsung berbagai persoalan dan harapan mahasiswa.
Selain Prof Bhayu, dialog tersebut menghadirkan Dr. Thea Farina, S.H., M.Kn., dan Prof. Dr. Liswara Neneng, S.Pd., M.Si. Forum mahasiswa tersebut kemudian menghasilkan nota kesepahaman yang ditandatangani Aliansi BEM Fakultas bersama ketiga calon rektor.
Menurut Prof Bhayu, nota kesepahaman yang disusun mahasiswa bukan sesuatu yang berlebihan. Sebaliknya, sejumlah poin yang disampaikan justru merupakan kebutuhan dasar yang semestinya menjadi perhatian universitas.
“Nota kesepahaman yang dibuat mahasiswa itu wajar. Itu permintaan dasar dari teman-teman mahasiswa dan itu seharusnya yang kita berikan atau siapkan kepada mahasiswa,” ujar Prof Bhayu.
Ia menyebut kebutuhan dasar tersebut antara lain ruang belajar yang nyaman, pasokan listrik yang memadai serta berbagai fasilitas penunjang proses akademik. Pemenuhan kebutuhan tersebut dinilai penting agar mahasiswa dapat menjalankan aktivitas perkuliahan dengan lebih optimal.
Aspirasi mahasiswa sendiri mencakup evaluasi pengelompokan Uang Kuliah Tunggal (UKT), pemerataan pembangunan infrastruktur, modernisasi laboratorium, peningkatan kualitas ruang kelas dan perpustakaan, penguatan kapasitas listrik serta pemerataan akses internet.
Mahasiswa juga menaruh perhatian terhadap kualitas layanan akademik dan administrasi, penguatan organisasi kemahasiswaan, transparansi anggaran universitas, pencegahan kekerasan seksual, penguatan riset mahasiswa, keterjangkauan biaya pendidikan, evaluasi Iuran Pengembangan Institusi (IPI) serta dukungan terhadap prestasi mahasiswa.
Prof Bhayu mengapresiasi keberanian mahasiswa menyampaikan aspirasi secara terbuka sekaligus merumuskan komitmen yang dapat dikawal bersama. Menurutnya, komunikasi antara pimpinan universitas dan mahasiswa perlu terus dibangun agar berbagai persoalan kampus dapat diselesaikan secara konstruktif.
“Intinya mahasiswa harus dimuliakan. Mahasiswa adalah jantung dari sebuah universitas,” tegas Prof Bhayu.
Nota kesepahaman tersebut selanjutnya akan menjadi salah satu instrumen pengawalan mahasiswa terhadap rektor terpilih. Aliansi BEM Fakultas berencana memulai monitoring sejak 100 hari pertama kepemimpinan dan melanjutkannya melalui dialog, evaluasi serta advokasi hingga periode kepemimpinan 2026–2031 berakhir.